Sabtu, 28 April 2012

konsep dasar Kusta/lepra


A.    PENGERTIAN
Lepra adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh microbakterium leprae yang menyerang saraf perifer dan kulit penderita. Lepra terutama didapatkan dari daerah tropis dan subtropis yang udaranya panas dan lembab pada lingkungan hidup yang tidak sehat.
(Prof. Dr. Soedarto. 2009.hal 145)

Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae (M.Leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernapasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata otot, tulang dan testis.
(Marwali Harahap.2000.hal.260)
Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks, tidak hanya dari segi medis (misal: penyakit atau kecacatan fisik), tetapi juga meluas sampai masalah sosial dan ekonomi.
(Dwi Rahariyani Loetfia. 2007.hal. 56)
Penyakit kusta adalah penyakit yang sangat ditakuti,karena merupakan penyakit menahun, sukar disembuhkan serta membawa akibat-akibat psikologis dan sosial.
(Entjang Indan. 2000. Hal. 56)

B.     Klasifikasi
Masa inkubasi lepra berlangsung lama, antara beberapa minnggu sampai 12 tahun. Terdapat 2 jenis lepra, yaitu :
1.    Lepra tuberkuloid
Pada lepra tuberkuloid gejala awal yang tampak berupa kelainan motorik, kelainan sensorik dan kelainan trofik pada alat gerak penderita. Kelainan kulit pada lepra tuberkuloid berbeda jenis dari kulit normal disekitarnya. Lesi kulit lepra tuberkuloid tidak peka terhadap rasa nyeri dan rasa raba.
2.    Lepra lepromatus
Gejala lepra jenis lepromatus diawali dengan terjadinya makula pre-lepromatus berupa eritema dengan batas tidak jelas dengan kulit normal disekitarnya. Lesi berkembang menjadi makula lepromatus yang difus dan infiltratif dan terutama mula-mula terbentk didaerah wajah dan lobus telinga. Kadang-kadang lepra lepromatus dapat berlangsung akut  dengan demam berulang, nyeri sepanjang saraf perifer, lalu timbul kelainan kuit yang segera menghilang kembali.
Kerusakan saraf perifer menimbulkan gangguuan gerak otot dan kelemahan oytot disertai hilangnya kemampuan sensorik dan rasa raba. Rasa tebal atau hilangnya ras raba terutama terjadi pada lengan, tangan, dan kaki. Penderita lepra dapat kehilangan fungsi tangan dan kakinya.
(Prof. Dr. Soedarto. 2009.hal 145)

Adapun klasifikasi yang banyak dipakai pada bidang penelitian adalah klasifikasi menurut ridley dan jopling yang mengelompokan kusta menjadi 5 kelompok berdasarkan gambaran klinik,bakteriologik,histopatologik dan imunologik.Sekarang klasifikasi ini secara luas dipakai diklinik dan untuk pemberantasan.
1. Tipe tuberkuloid-tuberkuloid {TT}
Lesi ini mengenai kulit dan saraf. Lesi kulit bisa satu atau beberapa,dapat berupa macula atau plakat,batas jelas dan bagian tengah dapat ditemukan lesi yang mengalami regresi atau penyembuhan ditengah. Permukan lesi dapat bersisik dengan tepi yang meninggi,bahkan dapat menyerupai gambaran psoriasis. Gejala ini dapat disertai penebalan saraf perifer yang biasanya teraba,kelemahan otot dan sedikit rasa gatal.
2. Tipe borderline tuberkuloid {BT}
Lesi pada tipe ini menyerupai tipe TT,yakni berupa makula anestesi atau plak  yang sering disertai lesi satelit di pinggirnya,jumlah lesi satu atau beberapa,tetapi gambaran hipopigmentasi,kekeringan kulit atau skuama tidak jelas seperti pada tipe tuberkuloid. Gangguan saraf tidak seberat pada tipe tuberkuloid dan biasanya asimetrik.Biasanya ada lesi satelit yang terletak dekat saraf perifer yang menebal.
3. Tipe borderline-borderline {BB}
Tipe BB merupakan tipe yang paling tidak stabil dari smua spectrum penyakit kusta.Tipe ini disebut juga sebagai bentuk dimorfik dan jarang dijumpai. Lesi dapat berbentuk makula infiltrate. Permukaan lesi dapat mengkilat,batas lesi kurang jelas jelas dengan jumlah lesi yang melebihi tipe borderline tuberkuloid dan cenderung simetrik. Lesi sangat bervariasi baik ukuran,bentuk dan distribusinya. Bisa didapat lesi punched out, yaitu hipopigmentasi yang oval pada bagian tengah,batas jelas yang merupakan ciri khas tipe ini.
4. Tipe borderline lepromatous {BL}
            Secara klasik lesi dimulai dengan makula. Awalnya dalam jumlah sedikit,kemudian dengan cepat menyebar keseluruh badan. Makula disini lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya.walau masih kecil, papel dan nodus lebih tegas dengan distribusi lesi yang hampir simetrik
            Dan beberapa nodus tampak melekuk pada bagian tengah . lesi bagian tengah sering tampak normal dengan pinggir didalam infiltrate lebih jelas disbanding pinggir luarnya,dan beberapa plak tampak seperti punched-out.
            Tanda-tanda kerusakan saraf berupa hilangnya sensasi,hipopigmentasi,berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncul dibandingkan dengan tipe lepromatous dengan penebalan saraf yang dapat teraba pada tempat predileksi dikulit.
5. Tipe lepromatous-lepromatous {LL}
            Jumlah lesi sangat banyak,simetrik,permukaan halus,lebih eritem,mengkilat berbatas tidak tegas dan tidak ditemukan gangguan anestesi dan anhidrosis pada stadium dini.distribusi lesi khas,yakni diwajah mengenai dahi,pelipis dagu,kuping telinga,sedangkan dibadan mengenai belakang yang dingin,lengan,punggung tangan,dan permukaan ekstensor tungkai bawah. Pada stadium lanjut tampak penebalan kulit yang progresif ,kuping telinga menebal, garis muka menjadi kasar dan cekung membentuk facies leonine yang dapat disertai madarosis ,iritis,dan keratitis. Lebih lanjut lagi dapat terjadi deformitas pada hidung . dapat dijumpai pembesaran kelenjar limfe ,orkitis, yang selanjutnya dapat menjadi atropitestis. Kerusakan saraf dermis menyebabkan gejala stocking dan  glove anaesthesia.
(Marwali Harahap.2000.hal.263)


Menurut WHO, kusta dibagi menjadi 2 :
1.    Multibasiler (MB), berarti mengandung banyak basil. Tipenya adalah BB, BL, dan LL.
2.    Pausibasiler (PB), berarti mengandung sedikit basil. Tipenya adalah  TT, BT, dan I.
(Lutfia dwi rahariyani.2007.hal 59)

C.     Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Miko bacterium lepra (Mycobacterium leprae,M.leprae).
Secara morfologik,M.leprae berbentuk pleomorf lurus,batang panjang,sisi pararel dengan kedua ujung bulat,ukuran 0,3-0,5x1-8 mikron.basil ini berbentuk batang gram positif,tidak bergerak dan tidak berspora,dapat tersebar atau dalam berbagai ukuran bentuk kelompok,termasuk masa ireguler besar yang disebut globi.
Beberapa tahun terakhir ini terlihat perkembangan dalam bidang penelitian penyakit kusta.Telah ditemukan struktur kimia suatu antigen,terutama phenolicglycolipid (PGL),sehingga menghasilkan revolusi dalam serodiagnosis penyakit kusta. Antigen ini ternyata dapat ditemukan pada jaringan Armadillo yang terinfeksi dengan M.leprae. PGL terdiri dari 3 macam yakni PGL-I,PGL-II dan PGL-III.
            M.leprae adalah basil obligat intraseluler yang terutama dapat berkembang biak di dalam sel schwann saraf dan makrofag kulit,basil ini dapat ditemukan dimana-mana,misalnya didalam tanah,air,udara dan pada manusia terdapat permukaan kulit , rongga hidung dan tenggorokan. Basil ini dapat berkembang biak di otot polos atau otot bergaris sehingga dapat ditemukan pada otot erector pili,otot dan endotel kapiler,otot diskrotum,dan otot diiris mata.Basil ini dapat ditemukan dalam folikel rambut,kelenjar keringat,secret hidung,mukosa hidungdan daerah erosi atau ulkus pada penderita tipe borderline dan lepromatous.
            Adanya distribusi lesi yang secara klinik predominan pada kulit,mukosa hidung dan saraf perifer superficial menunjukan pertumbuhan basil ini cenderung menyukai temperatur kurang dari 37◦c.
Bagian tubuh yang dingin seperti saluran pernapasan,testis,ruang anterior mata,dan kulit terutama kuping telinga ,dan jari,merupakan tempat yang biasa diserang. Sarah perifer yang terkena,terutama yang superficial,dan bagian kulit yang dingin cenderung paling banyak mengalami anestesi.
(Marwali Harahap.2000.hal.261)

D.    Manifestasi klinis
Gejala lepra berkembang sangat lambat. Gejala pertamanya berupa penebalan pada kulit yang berubah warnanya berupa bercak keputih-putihan (macula hypopigmentasi) yang kurang atau hilang perasaannya (anestesia). Pengenalan tanda pertama ini sangat penting untuk berhasilnya pengobatan dan pencegahan kecacatan akibat lepra. Bila mengenai kulit muka akan mengakibatkan tampang seseorang menjadi sangat menakutkan yang disebut facies leonina (muka singa).
Terkenanya sistem saraf ditandai dengan terjadinya gangguan perasaan (tuna rasa), gangguan tropik terhadap tulang dan otot, kelumpuhan dan borok-borok karena terganggunya peredaran zat. Gerakan anggota badan (lengan dan kaki) terganggu dan menimbulkan kecacatan. Mycobacterium leprae dapat pula menyerang mata sehingga buta, menyerang alat alat dalam seperti paruparu, ginjal dan sebagainya.
(dr. Indah entjang.2000.hal 55)

Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, bakterioskopis, dan histopatologis. Menurut WHO (1995),diagnosis kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut :
1.    Adanya lesi yang khas dan kehilangan sensibilitas.
Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi atau kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul, atau nodul.
Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan/atau kelemahan otot juga merupakan tanda kusta.
2.      BTA positif
Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai atau diperiksa ulang setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.
(arif mansjoer.2000.hal 66)

E.     Patogenesis
Setelah M. Leprae masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respons tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat imunitas selular (celluler mediated immune) pasien. Kalau sistem imunitas selular tinggi, penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah berkembang kearah lepromatosa. M. Leprae berpredileksi di daerah-daerah yang relatif lebih tinggi, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.
            Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena respons imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi selular daripada intensitas infeksi. Oleh karena itu penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik.
(arif mansjoer.2000.hal 66)




F.      Cara penularan
Melalui kontak langsung maupun tidak langsung, melalui kulit yang ada lukanya atau lecet, dengan kontak yang lama dan berulang-ulang. Lepra merupakan penyakit yang tidak mudah menular.
Lepra hanya ditularkan melalui kontak erat dalam waktu lama dengan penderita lepra yang berada pada stadium reaktif. Penularan didalam lingkungan keluarga, misalnya antara ibu penderita lepra dengan anaknya atau suaminya. Anak-anak lebih sering terinfeksi kuman lepra dibanding orang dewasa.
(dr. Indah entjang.2000.hal 55), (Prof. Dr. Soedarto. 2009.hal 145)

G.    Penyuluhan
Penyakit lepra merupakan penyakit yang sangat ditakuti, karena merupakan penyakit menahun, sukar disembuhkan serta membawa akibat akibat psikologis dan sosial. Rasa takut ini kadang-kadang sangat berlebihan sehingga tidak rasional lagi (phobi). Untuk menghilangkan lepro-phobi dalam masyarakat, perlu penerangan kepada masyarakat bahwa:
1.    Penyakit lepra tidak mudah menular.
2.    Lepra hanya menular melalui kontak yang lama dan berulang ulang dengan penderita yang dalam taraf menularkan. Sebagian besar dari para penderita lepra tidak dalam keadaan dapat menularkan penyakitnya.
3.    Penyakit lepra dapat disembuhkan, asal penderita berobat secara teratur selama beberapa tahun.
4.    Lepra adalah suatu penyakit dan bukan kutukan Tuhan.
5.    Penyakit lepra bukan keturunan, penderita dapat menikah dan mempunyai anak-anak yang sehat.
6.    Pengenalan penyakitnya pada tingkat awal sangat penting, agar pengobatan dapat segera diberikan seingga mencegah perkembangan lepra menjadi bentuk yang berat.
7.    Rasa takut yang tidak wajar (leprophobi) menyebabkan kelangsungan penyakit ini dalam masyarakat dan menghambat pemberantasannya. Penderita tidak boleh disembunyikan, melainkan harus segera diobati.
 (dr. Indah entjang.2000.hal 56)

H.    Pencegahan dan Pemberantasan
Mycobacterium lepra hanya dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan tidak pada hewan. Juga penularannya melalui kontak  yang lama karena pergaulan yang rapat dan berulang ulang, karena itu penyakit ini akan hilang dengan sendirinya dengan perbaikan hygiene pribadi dan perbaikan hygiene lingkungan.
Usaha pencegahan untuk pribadi adalah menghindari kontak dengan penderita. Bila kontak ini tak dapat dihindari maka hygiene badan cukup menjamin pencegahannya. Kebersihan badan, mandi pakai sabun, kebersihan pakaian, hygiene lingkungan yang baik dan makanan yang sehat cukup kwalitas dan kwantitasnya. Jika luka-luka kecil terjadi maka pengobatan dan pemeliharaan kebersihannya mutlak.
Usaha pencegahan untuk masyarakat, dilaksanakan dengan menghilangkan sumber penularan yaitu dengan mengobati semua penderita. Dahulu pemberantasan lepra dijalankan dengan mengasingkan semua penderita dari masyarakat. Dengan demikian diharapkan sumber-sumber penularan dalam masyarakat akan habis sehingga tidak ada lagi penularan baru.
Tapi dengan cara ini hasilnya tidak baik karena:
1.    Sejumlah penderita yang tidak mau diasingkan akan menyembunyikan dirinya dan mereka akan tetap merupakan sumber penularan dalam masyarakat.
2.    Pengasingan, menyebabkan penderita lepra terasing dari keluarga dan masyarakat untuk waktu lama, hal ini akan menyulitkan pemulihan mereka ke dalam masyarakat bila mereka sembuh.
3.    Leprophobi yang masih ada dalam masyarakat akan semakin bertambah, hal mana akan menyulitkan usaha pemberantasannya.

Mengingat bahwa pengobatan dapat menghentikan penularan maka pemberantasannya dilakukan dengan 3 usaha pokok yaitu :
1.    Mencari dan menemukan semua penderita (case finding) dalam masyarakan untuk diberikan pengobatan yang sebaik-baiknya.
2.    Mengobati dan mengikuti penderita (case holding)
a)    Pengobatan dilaksanakan di poliklinik yang semudah mungkin dicapai penderita.
b)   Bila penderita tidak datang berobat ke poliklinik, dilakukan kunjungan rumah untuk diberikan pengobatan dan penerangan.
c)    Setiap penderita pindah alamat harus diikuti dengan teliti agar ia tidak lepas dari pengobatan dan perawatan. Hal ini perlu dilakukan karena jangka waktu pengobatannya sangat lama, minimal 3 tahun terus-menerus.
3.    Pendidikan kesehatan tentang penyakit lepra kepada masyarakat :
a)    Agar masyarakat mempunyai pengertian yang wajar tentang penyakit lepra tanpa membesar-besarkannya maupun mengecilkannya.
b)   Agar masyarakat dapat mengenal gejala penyakit lepra pada tingkat awal, sehingga pengobatan dapat segera diberikan supaya menyembuhkan penyembuhan dan mencegah terjadinya kecacatan.
c)    Agar masyarakat tahu bahwa penyakit lepra dapat disembuhhkan asal pengobatan dilaksanakan secara teratur. Pentingnya pengobatan ini tidak hanya untuk penyembuhan saja. Melainkan juga untuk mencegah penularan kepada anggota keluarga dan masyarakat disekitarnya.
d)   Agar masyarakat menyadari bahwa penghuni serumah (contact person) harus memeriksakan diri setiap tahun untuk menemukan kasus-kasus yang dini.
(dr. Indah entjang.2000.hal 55)





I.       Pengobatan
Tujuan utama program pemberantasan penyakit kusta adalah memutuskan rantai penularan untuk menurunkan insidensi penyakit,mengobati dan menyembuhkan penderita serta mencegah timbulnya cacat. Untuk mencapai tujuan itu sampai sekarang strategi pokok yang dilakukan masih didasarkan atas deteksi dini dan pengobatan penderita , yang tampaknya masih tetap diperlukan walaupun nanti vaksin kusta yang efektif telah tersedia. Sejak dilaporkan adanya resistensi terhadap dapson baik primer maupun sekunder,pada tahun 1977 WHO memperkenalkan pengobatan kombinasi yang terdiri paling tidak dua obat anti kusta yang efektif. Sayangnya anjuran ini tidak diikuti dilapangan dengan beberapa alasan . oleh karena itu pada tahun 1981 WHO study group on chemotherapy of leprosy secara resmi mengeluarkan rekomendasi pengobatan kusta dengan regimen  MDT (Multi Drug Therapy).
Sejak januari 1982, pengobatan kusta di Indonesia mengikuti  keputusan WHO  Expert Committee Meeting di Geneva (Oktober 1982),yaitu dengan pengobatan kombinasi DDS, Lampren dan Rifampisin. 
(Marwali Harahap.2000.hal.265)

Berbagai obat yang telah digunakan mengobati penderita lepra adalah diamino difenil sulfon (DDS, Dapsone), rifampisin, clofazimin (lamprene) dan thalidomide.
Jika terjadi komplikasi sesuai dengan jenisnya dilakukan bedah ortopedik untuk memperbaiki fungsi gerak penderita atau trakeotomi jika terjadi gangguan pernapasan akibat kelumpuuhan saraf  terkait.
(Prof. Dr. Soedarto. 2009.hal 147)

Jenis pengobatan yang diberikan pada penderita kusta adalah sebagai berikut :
1.    Tipe pausibasiler (PB). Jenis dosis untuk orang dewasa :
a)    Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
b)   DDS tablet 100mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan. Setelah selesai pasien dinyatakan RTF (release from treatment/ berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995), pasien tidak lagi dinyatakan RTF, melainkan dengan istilah completion of treatment cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.
2.    Tipe multibasiler (MB). Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa :
a)    Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.
b)   Klofazimin 300 mg/bulan diminum didepan petugas, dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg/hari diminum dirumah.
c)    DDS tablet 100mg/hari diminum dirumah.
Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis, pasien dinyatakan  RTF, meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif.
Menurut WHO (1998), pengobatan MB dibarikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RTF.
(Lutfia dwi rahariyani.2007.hal 65)

J.       Komplikasi
Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta baik akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta.

(arif mansjoer.2000.hal 66)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar