Senin, 30 April 2012

askep diare


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, penyakit diare adalah salah satu penyebab kematian utama setelah infeksi saluran pernafasan.
Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar 7,4%. Sedangkan angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45% (Solaiman, EJ, 2001). Sementara itu, pada survey morbiditas yang dilakukan oleh Depkes tahun 2001, menemukan angka kejadian diare di Indonesia adalah berkisar 200-374 per 1000 penduduk. Sedangkan menurut SKRT 2004, angka kematian akibat diare 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat diare pada balita 75 per 100.000 balita. Insiden penyakit diare yang berkisar antara 200-374 dalam 1000 penduduk, dimana 60-70% diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun.
Penyakit diare ini adalah penyakit yang multifaktoral, dimana dapat muncul akibat tingkat pendidikan dan social ekonomi yang kurang serta akibat kebiasaan atau budaya masyarakat yang salah. Oleh karena itu keberhasilan menurunkan diare sangat bergantung dari sikap setiap anggota masyarakat, terutama membudayakan penggunaan larutan oralit dan cairan rumah tangga pada anak yang menderita diare.Saat ini sedang digalakan dan dikembangkan pada masyarakat luas untuk menanggulangi diare dengan upaya rehidrasi oral (oralit) dan ternyata dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat diare.







B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui  definisi diare
2.      Untuk mengetahui penyebab diare
3.      Untuk mengetahui klasifikasi diare
4.      Untuk mengetahui manifestasi diare
5.      Untuk mengetahui patofisiologi diare
6.      Untuk mengetahui komplikasi diare
7.      Untuk mengetahui penatalaksanaan diare
8.      Untuk mengetahui pencegahan diare
9.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien diare























BAB II
ISI
A.    DEFINISI
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari, kadang-kadang disertai dengan darah atau lendir.
(Anik Maryunani.2010)

Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Buang air besar yang tidak normal dan bentuk tinja yang cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (Bag. Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM)
(Weni Kristiyanasari. 2009)

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan volume, keenceran, dan frekuensi dengan atau tanpa lendir darah, seperti lebih dari 3 kali/hari dan pada neonates lebih dari 4 kali/hari.
(Aziz Alimul Hidayat.2004)

B.     ETIOLOGI
1.      Faktor infeksi
a)      Infeksi enteral, merupakan infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Rotavirus merupakan penyebab utama infeksi (70%-80%), sedangkan bakteri dan parasit ditemukan 10%-20% pada anak.
Berikut ini nama-nama bakteri, virus dan parasit penyebab diare :
· Golongan bakteri :
Ø Aeromonas hidrophilia              
Ø Bacillus cereus
Ø Campylobacter jejuni
Ø Clostridium diffcile
Ø Clostridium perfringens
Ø Escherichia coli dll.

· Golongan virus
Ø Adenovirus
Ø Rotavirus
Ø Virus Norwalk
Ø Astrovirus dll.
· Golongan parasit
Ø Balantidium coli
Ø Capillaria philippinensis
Ø Cryptosporidium
Ø Entamoeba histolytica
Ø Giardia lamblia dll.
b)      Infeksi parenteral, merupakan infeksi diluar saluran pencernaan makanan, seperti otitis media akut (OMA), bronkopneumonia, tonsillitis, ensefalitis, keadaan ini terutama pada bayi dan anak berusia dibawah 2 tahun.
2.      Faktor malabsorbsi
Seperti gangguan absorbs karbohidrat (pada bayi dan anak yang tersering adalah intoleransi laktosa), malabsorbsi lemak, malabsorbsi protein.
3.      Faktor makanan
Seperti alergi makanan, makanan basi, beracun.
4.      Faktor  Psikologis
Seperti rasa takut dan cemas.

C.    KLASIFIKASI
a.    Diare akut
Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak balita. Diare akut didefinisikan sebagai keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi defekasi yang sering disebabkan oleh agens infeksius dalam traktus GI. Keadaan ini dapat menginfeksi saluran nafas atas (ISPA) atau saluran kemih (ISK), terapi antibiotic atau pemberian obat pencahar (laktasif). Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya kurang dari 14 hari) dan akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi.

b.   Diare Infeksius Akut (gastroenteritis infeksiosa)
     Dapat disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit yang pathogen.
c.    Diare kronik
   Didefinisikan sebagai keadaan menigkatnya frekuensi defekasi dan kandungan air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14 hari. Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom malabsorpsi, penyakit infeksi usus, difisiensi kekebalan, alergi makanan, intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang kronis, atau sebagai akibat dari pelatalaksanaan diare akut yan tidak memadai.
d.   Diare yang membandel (intraktabel) pada bayi
Merupakan sindrom yang terajadi pada bayi dalam usia beberapa minggu pertama serta berlangsung lebih lama dari 2 minggu tanpa ditemukannya mikroorganisme pathogen sebagai penyebabnya dan bersifat resisten atau membandel terhadap terapi. Penyebabnya yang paling sering adalah diare infeksius akut yang tidak ditangani secara memadai.
e.    Diare kronik nonspesifik
Diare kronik nonspesifik yang juga dikenal dengan istilah kolon intable pada anak atau diare toddler, merupakan peyebab diare kronik yang sering dijumpai pada anak-anak yang berusia 6 hingga 54 minggu. Anak-anak ini memperlihatkan feses yang lembek yang sering disertai partikel makanan yang tidak tercerna, dan lamanya diare lebih dari dua minggu. Anak-anak yang mederita diare kronis nonspesifik ini akan tumbuh secara normal dan pada anak-anak ini tidak terjadi gejala malnutrisi. Tidak ada darah pada fesesnya serin tidak tampak infeksi enterik (Huffman, 1999). Kesalahan makanan dan sensitivitas terhadap makanan pernah dikaitkan dengan diare kronis, khususnya konsumsi jus dan pemanis buatan yang banyak dijumpai pada produk makan dan minuman kemasan mungkin menjadi factor pemicunya.




D.    MANIFESTASI
Gambaran klinis penyakit diare sesuai dengan derajat dehidrasinya.
Derajat dehidrasi menurut WHO, adalah sebagai berikut :
Kategori
Tanpa
Dehidrasi
Dehidrasi
Ringan-Sedang
Dehidrasi
berat
1. Menyatakan:
ü  Diare

ü  Muntah


ü  Haus


ü  Buang air kecil

ü  <4 x sehari
ü Tidak ada/sedikit

ü  Tidak ada


ü  normal

ü  4-10x sehari

ü  Ada hanya beberapa kali




ü  Sedikit, warna kuning tua


ü  >10x sehari
ü  Sering


ü  Banyak atau tidak minum
ü  Anuria selama 6 jam
2. Melihat
ü  Keadaan umum
ü  Air mata
ü  Mata
ü  Bibir dan lidah
ü  nafas

ü  Baik

ü  Ada
ü  Normal
ü  Ada

ü  Normal


ü  Lemah,gelisah

ü  Tidak ada
ü  Cekung
ü  Kering

ü  cepat

ü tidak lunglai, sadar
ü tidak ada
ü sangat cekung
ü sangat kering

ü sangat cepat atau kussmaul
3. Palpasi
ü  kulit


ü  nadi




ü  ubun-ubun

ü  Kekenyalan normal

ü  Normal, <120/menit



ü  Normal

ü  Kekenyalan kurang

ü  Cepat 120-140/menit



ü  Cekung

ü  Kekenyalan sangat kurang
ü  Sangat cepat, lemah/tidak teraba >140/menit
ü  Sangat cekung
4.Menimbang     berat badan
Tetap
Turun 25-100gr/kgBB
Turun >100gr/kgBB
5.taksiran kehilangan cairan
Tidak ada
40-90ml/kgBB
100-110ml/kgBB

E.     PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk kedalam saluran cerna melalui makanan atau minuman, kemudian berkembang biak didalam saluran cerna dan mengeluarkan toksin.
Toksin merangsang epitel usus dan menyebabkan peningkatan enzim yang mempunyai kemampuan merangsang sekresi klorida, natrium dan air dari dalam sel kelumen usus serta menghambat absorbsi natrium, klorida dan air dari lumen usus kedalam sel. Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan osmotic didalam lumen usus. Akibatnya terjadi hiperperistaltik usus yang sifatnya mengeluarkan cairan yang berlebihan dalam lumen usus,  sehingga cairan dialirkan dari lumen usus halus ke lumen usus besar. Bila kemampuan penyerapan kolon (usus besar) berkurang atau sekresi cairan melebihi kapasitas penyerapan kolon, maka akan terjadi diare.

Dari patofisiologi diatas, maka pada prinsipnya terdapat mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare yaitu :
Ø Gangguan sekretorik/sekresi, akibat rangsangan toksin/rangsangan tertentu pada dinding usus akan terjadi peningkatan-peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ø Gangguan osmotic, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan osmotic dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkanya sehingga timbul diare.
Ø Gangguan mobilitas usus, hiperperistaltik akan mengekibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya, bila peristaltic usus menurun, akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare.






























F.     PATHWAYS


 













 



















Kekurangan volume cairan



G.    KOMPLIKASI
1. Dehidrasi
Ringan (≤ 5% BB)
Sedang (5 – 10% BB)
Berat (≥10 – 15% BB)
2. Renjatan hipovolemik (volume darah menurun, bila 15 – 25% BB akan  menyebabkan TD menurun).
3. Syok Hipovolemik
4. Hipoglikemia
5. Kejang
6. Malnutrisi

H.    PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan medis
              Dasar pengobatan diare adalah :
1.      Pemberian cairan: jenis caran, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
2.      Dietetik (cara pemberian makanan)
3.      Obat-obatan

Tujan pengobatan
·       Mencegah dehidrasi
·       Mengatasi dehidrasi yang telah ada
·      Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan        setelah diare
·      Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan memberikan suplemen Zinc.

Berikut ini dikemukakan tentang beberapa manfaat dari zinc dan penelitian yang berkaitan dengan pemberian suplemen zinc :
Zinc merupakan komponen > 300 enzim dan dibutuhkan untuk sintesis DNA, pembelahan sel dan sistesis protein. Gejala dan defisiensi zinc (seng) tidak jelas, terutama pada yang ringan. Prevalensi defisiensi zinc di Indonesia cukup tinggi, berkisar antara 44-60%. Angka kejadian diare 47% lebih tinggi pada anak dengan defisiensi zinc. Penelitian membuktikan bahwa suplemen zinc dapat menurunkan angka kejadian diare akut dan persisten. Penelitian suplementasi zinc di Negara berkembang (India, Meksiko, Papua nugini, Peru, Vietnam, Guatemala, Bangladesh, Pakistan, Jamaica) memperlihatkan menurunnya secara bermakna angka kejadian diare akut, diare persisten dan pneumonia. Sejak tahun 2004, WHO dan UNICEF setelah mempelajari berbagai penelitian di seluruh dunia, menganjurkan pemberian zinc pada anak dengan diare 20 mg per hari selama 10-14 hari. Pada  anak < 6 bulan 10 mg per hari selama 10-14 hari

Cara memberikan cairan dalam terapi rehidrasi
a.         Belum ada dehidrasi
Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum)atau 1 gelas tiap defekasi.
b.         Dehidrasi ringan
1 jam pertama: 50-100 ml/kg BB per oral (intra gastric)
Selanjutnya: 125 ml/kg BB/hari ad libitum
c.         Dehidrasi sedang
1 jam pertama: 50-100 ml/kg BB per oral/intragastrik (sonde)
Selanjutnya: 125 ml/kg BB/hari ad libitum
d.        Dehidrasi berat
Ø Untuk anak usia 1 bulan-2 tahun berat badan 3-10 kg
1 jam pertama: 40 ml/kg BB/jam=10 tetes /kg BB/menit (set infuse berukuran 1 ml=15 tetes) atau 13 tetes/kg BB/menit (set infuse 1ml=20 tetes)
7 jam berikutnya: 12 ml/kg BB/jam=3 tetes/kg BB/menit (set infuse 1 ml=15 tetes) atau4 tetes/kg BB/menit (set infuse 1 ml=20 tetes)
16 jam berikutnya: 125 ml/kg BB oralit per oral atau integastrik. Bila anak tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kg BB/menit (set infuse 1ml=15 tetes)
Ø Untuk anak usia 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama: 30 ml/kg BB/jam atau 8 tetes/kg BB/menit (1ml=15 tetes)
7 jam berikutnya: 10 ml/kg BB/jam atau 3 tetes/kg BB/menit (1ml=15 tetes) atau 4 tetes/kg BB/menit (1ml=20 tetes)
16 jam berikutnya: 125 ml/kg BB oralit per oral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes).
Ø Untuk anak lebih 5-10 tahun dengan BB 15-25 kg
1 jam pertama: 20 ml/kg BB/jam atau 5 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 7 tetes/kg BB/menit (1ml=20 tetes)
7 jam berikut: 10 ml/kg BB/jam atau 2½ tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml=20 tetes)
16 jam berikutnya: 105 ml/kg oralit per oral atau bila anak tidak mau minum dapat diberikan DG aa intravena 1 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 1½ tetes/kg BB/menit (set 1 ml=20 tetes).
Ø Untuk bayi baru lahir (neonates) dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml= 250 ml/kg BB/24 jam.
Jenis cairan: cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO 1½%).
Kecepatan:
4 jam pertama: 25 ml/kg BB/jam atau 6 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) 8 tetes/kg BB/menit (1 ml=20 tetes).
20 jam berikutnya: 150 ml/kg BB/20 jam atau 2 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes ) atau 2½ tetes/kg BB/menit (1 ml=20 tetes).
Ø Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2 kg
Kebutuhan cairan:
250 ml/kg BB/24 jam.
Jenis cairan:
Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10 %+1 bagian NaHCO

Kecepatan cairan:
Sama dengan pada bayi baru lahir.
Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dan berat dengan diare dehidrasi
berat misalnya untuk anak umur 1 bulan-2 tahun dengan berat badan 3-10 kg.
Jenis cairan: DG aa.
Jumlah cairan: 250 ml/kg BB/24 jam
Kecepatan:
4 jam pertama: 60 ml/kg BB/jam atau 15 ml/kg BB/jam atau=4 tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 5 tetes/kg BB/menit (1 ml=20 tetes)
20 jam berikutnya: 190 ml/kg BB/20 jam atau 10 ml/kg BB/jam atau 2½ tetes/kg BB/menit (1 ml=15 tetes) atau 3 tetes/kg BB/menit (1 ml=20tetes).
I.       PENCEGAHAN
1)      Pencegahan
            Meredam pendarahan bahaya diare sesungguhnya dapat dilakukan oleh segenap lapisan masyarakat. Kasus kematian bayi akibat terserang diare dapat dikurangi dengan cara pemberian ASI pada bayi dapat mencegah diare. ASI terjamin kebersihanya dan cocok untuk bayi. Selain itu ,ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat menolak pengaruh bibit penyakit yang masuk kedalam tubuh bayi.
            Secara umum diare dapat dicegah penularanya dengan cara meningkatkan higienis perorangan dan lingkungan . membiasakan hidup sehat sehari-hari dalam lingkungan yang juga terjaga kebersihanya. Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari harus bersih, buang hajat di tempat yang tidak dijangkau lalat, dan mengkonsumsi makanan bergizi yang higienis ,tentu akan dapat mengusir jauh diare perenggut banyak bayi itu.
            Diare juga dapat dijegah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh melalui peningkatan gizi. Selain itu, pemberian imunisasi campak, kolera, dan typoid merupakan langkah yang dapat ikut mencegah diare. Bagi bayi, pemberian makanan pendamping air susu ibu yang bersih dan bergizi setelah bayi berumur 4 bulan, juga merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kekebalan.
2)      Upaya penanggulangan
            Hal perama yang harus diperhatikan dalam penanggulangan diare adalah masalah kehilangan cairan tubuh yang berlebihan (dehidrasi). Dehidrasi ini bila tidak segera diatasi, dapat membawa bahaya ,terutama bagi anak-anak dan balita. Bagi penderita diare ringan ,dapat diberikan oralit. Tetapi bila dehidrasi sudah sedemikian beratnya, maka perlu dibantu dengan cairan intravena atau infuse. Angka kematian akibat dire dapat diturunkan dengan pertolongan memberikan oralit sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang.  
            Minuman yang terbaik diberikan kepada penderita ialah larutan garam gula atau oralit. Cara pemberian yang dianjurkan ialah dengan meminumkan segera larutan oralit sampai penderita tidak merasa haus lagi .untuk anak balita biasanya diperlukan sekitar 3 bungkus oralit 200 cc dalam tiga jam pertama. Bila dirumah tidak tersedia oralit ,kepada penderita yang baru mulai diare, dapat diberikan cairan yang ada seperti air tajin, air buah ,air sayuran air kelapa atau air yang dicampur gula dan aram. Cairan-cairan ini untuk sementara akan dapat mengatas kekurangan cairan elektrolit yang terbuang Bersama diare. 
J.      ASUHAN KEPERAWATAN
a.      Pengkajian
Ø Anamnesa
Kepada penderita atau keluarganya perlu ditanyakan mengenai riwayat perjalanan penyakit, antara lain :
· Lamanya sakit / diare / sudah berapa jam, hari.
· Frekuensinya (berapa kali sehari)
· Banyaknya / volumenya (berapa banyak setiap kali BAB, misalnya     berapa ml / popok penuh)
· Warnanya (biasa, kuning, berlendir, berdarah, seperti air cucian berah)
· Baunya (amis, busuk)
· Buang air kecil (banyaknya, warnanya, kapan terakhir buang air kecil)
· Ada tidaknya batuk, panas, pilek dan kejang (sebelum, selama, atau setelah diare)
· Jenis, bentuk dan banyaknya makanan dan minuman sebelum dan sesudah sakit.
· Adakah penderita diare disekitar rumah
· Berat badan sebelum sakit (bila diketahui)
Ø Pemeriksaan fisik
·      Inspeksi
·      Palpasi
·      Perkusi
·      Auskultasi

Ø Pemeriksaan laboratorium
·       Pemeriksaan tinja
·       Pemeriksaan darah
·       Pemeriksaan urine
b.      Diagnosa Keperawatan
1)      Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI kedalam feses atau muntahan.
2)      Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kehilangan cairan akibat diare dan asupan cairan yang tidak adekuat.
3)      Kerusakan integritas kulit yan berhubungan dengan iritasi karena defekasi yang sering dan feses yang cair.
4)      Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi


c.       Intervensi
Diagnosa 1 : Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan dari traktus GI kedalam feses atau muntahan.
Tujuan :
pasien melihatkan tanda rehidrasi dan mempertahankan hidrasi yang adekuat.
Hasil Yang Diharapkan :
Anak memperlihatkan tanda hidrasi yang adekuat.
Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI
RASIONAL
Berikan larutan oralit untuk rehidrasi maupun pergantian cairan yang hilang lewat feses.
Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering khususnya jika anak muntah bukan merupakan kontra indikasi pemberian oralit kecuali pada muntah yang hebat.
Berikan dan pantau pemberian infuse sesuai program.
Untuk mengatasi dehidrasi dan vomitus yang hebat.
Berikan preparat antimikroba sesuai program.
Untuk mengatasi mikroorganisme pathogen spesifik yang menyebabkan kehilanan cairan berlebihan lewat traktus GI.
Beriakan oralit secara bergantian dengan cairan rendah natrium seperti air ASI atau susu formula.
Untuk terapi cairan rumatan.

Pertahankan catatan asupan dan haluaran cairan (urine, feses dan muntahan) secara ketat.
Untuk mengevaluasi keefektifan intervensi.

Pantau berat jenis urine setiap 8 jam sekali atau sesuai indikasi.
Untuk menilai status hidrasi.



Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan kehilangan cairan akibat diare dan asupan cairan yang tidak adekuat.
Tujuan :
Pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk mempertahankan yang tepat menurut usianya.
Hasil Yang Diharapkan :
Anak mendapatkan nutrien sesuai program dan memperlihatkan peningkatan berat badan yang memuaskan.
Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI
RASIONAL
Hindari diet (pisang, nasi, apel dan roti kering atau teh)
karena diet ini memiliki kandungan energi dan protein yang rendah, kandunan hidrat aran yang terlalu tinggi serta kadar elektrolit yan rendah.
Amati dan catat respons anak terhadap pemberian makanan
untuk menilai toleransi anak terhadap makanan/susu formula yang diberikan.


Diagnosa 3: kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan iritasi karena defekasi yang sering dan feses yang cair.

Tujuan :
Kulit pasien tetap utuh.
Hasil Yang Diharapkan :
Anak tidak melihatkan rupture kulit.
Intervensi Keperawatan/rasional :
INTERVENSI
RASIONAL
Ganti popok dengan sering
Menjaga agar kulit selalu bersih dan kering.
Oleskan salep (zink)
Melindungi kulit terhadap iritasi.
Hindari membersihkan dengan tissue yang mengandung alcohol (tissue basah)
Penggunaan tissue akan menimbulkan rasa perih.
Oleskan preparat antifungus
Untuk mengobati infeksi jamur.

Diagnosa 4 : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi peningkatan suhu tubuh.
Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal (36-37°C)
Intervensi Keperawatan/Rasional :
INTERVENSI
RASIONAL
Monitor suhu tubuh
Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh
Berikan kompres hangat
Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh.
Kolaborasi :
Pemberian antipiretik
merangsang pusat pengatur panas di otak.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Perubahan yang terjadi berupa perubahan peningkatan volume, keenceran, dan frekuensi dengan atau tanpa lendir darah, berlangsung 3 kali sehari/lebih, sedang pada neonatus lebih dari 4 kali sehari. Disebabkan oleh beberapa faktor sbb :
1.       Faktor infeksi
2.       Faktor malabsorbsi
3.       Faktor makanan
4.       Faktor  Psikologis
            Diare dapat diklasifikasikan menjadi Diare akut, Diare Infeksius Akut (gastroenteritis infeksiosa), Diare kronik, Diare yang membandel (intraktabel) pada bayi, Diare kronik nonspesifik.
Hal yang perlu dikaji untuk menentukan tindakan keperawatan pada diare :
·           Lamanya sakit / diare / sudah berapa jam, hari.
·           Frekuensinya (berapa kali sehari)
·           Banyaknya / volumenya (berapa banyak setiap kali BAB, misalnya berapa ml / popok
penuh)
·           Warnanya (biasa, kuning, berlendir, berdarah, seperti air cucian berah)
·           Baunya (amis, busuk)
·           Buang air kecil (banyaknya, warnanya, kapan terakhir buang air kecil)
·           Ada tidaknya batuk, panas, pilek dan kejang (sebelum, selama, atau setelah diare)
·           Jenis, bentuk dan banyaknya makanan dan minuman sebelum dan sesudah sakit.
·           Adakah penderita diare disekitar rumah
·           Berat badan sebelum sakit (bila diketahui)




DAFTAR PUSTAKA
-          Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC
-          Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan.jakarta: TIM
-          Hidayat , Aziz Alimul,2007.Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba mendika
-          dr. Arief ZR, dkk.2009. Neonatus dan Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta : Nuha Medika
-          Ngastiyah. 2003. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar